Jumat, 04 Februari 2011

kini telah tiba masa untuk mendaki kembali



tiba saatnya bagi kita untuk mendaki kembali
seberkas senja mengiringi jejak langkah tuk telusuri jingga

goresan makna akan terpatri dalam bias
jika dalam tapak tak tinggalkan nila
yang mengalir
semua akan terganti dengan nuansa indah
dari syair kemenangan

dan kini, kusiap mendaki kembali
seberapapun peluh

Selasa, 01 Februari 2011

mendamba senja



mendamba senja

dikala setiap orang sibuk dengan kefanaan,
anti menyibukkan dengan kebaikan
disaat semua lelah, anti senantiasa terjaga

wahai ukhti fillah,,
subhanallah atas mulianya akhlakmu
setiap abdi mendamba tuk mendapatkanmu
tak semua orang dengan mudah mampu menyentuhmu

dan tahukah wahai manusia
ialah wanita sholihah !!
suara serta pandangan yang senantiasa terjaga
tak ingin bergumul dengan yang tak halal

subhanalloh,
hanya sejenak lambungnya mendekat kasur, hanya sejenak lambungnya menyapa makanan
dan, ia selalu disibukkan dengan kebaikan
tak ingin masa hanya berlalu dan tak bermakna
tak ingin ia menapak tanpa Asa

dan yang menjadi tumpuan hanayalah
Ridho ALLOH SWT
tak ada yang lain,,

pandangan yang menunduk tuk menjaga dari duri yang belum halal
dan kini, dalam alir nadinya,,
tersimpan azzam para mujahiddah

ia yang inginkan diakhir perjumpaannya mampu
hadirkan senyum
ia yang inginkan bias Tasbih dalam akhir tuturnya

alkhwat fillah, semoga dalam diri kita, tersimpan azzam serta ghiroh
tuk menyongsong senja bersama Bidadari
amin

semangad berjuang wahai para calon mujahidah
semoga Ridho selalu mengiringi derap juang


menjelajah Manglayang





peluh yang terlahir dalam deretan asa..
hempas batu serta pasir yang menghalang pendakian
dalam setiap pendakian , seakan bisikan lelah slalu terngiang
namun,, 
semua itu luruh seiring harap ingin mencapai puncak

derap kepastian yang selalu menjadi titian diri
seiring dengan keistiqomahan, kini diri masih dalam pendakian
masih dalam perjalanan menggenggam zenith kemenangan
seberapapaun aral yang menghijab,

tak akan gentar tuk maju
lantaran disisi ada Alloh sebagai
Penguat serta Sandaran saat kaki merasa rapau
dan, kini belum saatnya bagi diri untuk berhenti
masih terlalau panjang asa yang belum dicapai
 diri ini tak ingin tinggalkan massa tanpa makna

pendakian diri masih berlanjut
dan slalu terpatri dalam benak
kerinduan meniti kemenangan disaat
memandang Wajah TerindahNya

 


MENGGENGGAM EDLEWIS

dalam lantun syair yang terbias dari bibir, ingin ku coba merangkai setiap Sajak Agung Millik Sang Penggenggam Cinta
bak permadani yang membentangkan lentera sebagai
pemudar pias kelam dalam
diri setiap insan

segenggam rindu yang mengalir dalam hangat alur nadi tak terhenti
denyut yang hanya dirasakan oleh insan peneguh iman
tak mudah pudar Pelita itu
tak mudah melebur Cinta itu
dalam sajak sepertiga malam, Sang Cinta hadir untuk
saling menyapa dalam keheningan rindu

dan kini, kesejatian itu ingin slalu digenggam tuk meretas
Keabadian dalam sosok Edleweise kehidupan